Tampilkan postingan dengan label Kawruh Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kawruh Jiwa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 September 2013

Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan Rabindranath Tagore

Kejernihan Ki Ageng Suryomentaram dan Rabindranath Tagore dalam sebuah catatan pendek

Sebagaimana pernyataan Tagore dalam My Boyhood Days, bahwa “makanan memperoleh cita rasanya bukan dari bumbu-bumbu melainkan dari tangan-tangan yang memasaknya.” Demikian pula berbagai resep kearifan dari Ki Ageng Suryomentaram menurut saya. Ya, betapapun nyaris tanpa bumbu sastrawi dan jauh dari terminologi ilmiah, namun Kawruh Begja yang beliau ajarkan tidak kalah adiluhungnya dengan yang didedahkan oleh para filsuf dan pujangga termasyhur di dunia, setidaknya menurut saya.

Bagi para sahabat yang sudah mempelajari ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram, melalui diktat yang telah dirangkum oleh para sahabat di Taman Mpu Sendok 12, paling tidak, berikut ini saya kutipkan sebuah aforisma dari Rabindranath Tagore yang saya nukil dari Gitanjali beliau yang legendaris itu. Mudah-mudahan aforisma ini semakin meningkatkan sense of appreciate kita terhadap kekayaan khazanah lokal kita. Amin.

Tinggalkan lagu dan nyanyian ini, juga pembicaraan mengenai penyucian diri (tasbih). Kepada siapa kau tujukan pemujaan dalam sudut sepi dan gelap di kuil ini dengan semua pintu tertutup? Buka matamu dan lihat Tuhan-mu tidak ada di hadapanmu.

Dia ada di sana. Di tempat para peladang yang membajak tanah yang keras, dan di tempat para pembuat jalan setapak yang memecah batu-batu. Dia bersama mereka dalam panas dan hujan, dengan pakain yang berlumur debu. Lepaskan jubah sucimu sebagaimana mereka yang didekati-Nya, dan bergumullah dalam tanah berdebu!

Pembebasan? 

Di mana arti kata pembebasan ini bisa ditemukan? Tuan kita sendiri dengan penuh keriangan menalikan pada diri-Nya ikatan penciptaan; Dia terikat dengan kita semua selamanya.

Keluar dari meditasimu dan singkirkan bunga-bunga dan dupamu! Apa ruginya jika pakaianmu menjadi compang-camping dan kotor? Temui Dia dan berdiri di sebelah-Nya dalam kerja keras dan dalam keringat di keningmu.

Silakan sandingkan dengan frasa yang ditulis oleh Ki Ageng, yang mendedahkan hakikat dengan bahasa “rakyat jelata” berikut ini:

Maka apabila rasa sial dianggap sebagai sifat, anggapan itu benar. Walaupun penjabarannya masih bisa keliru, sehingga orang mencari Yang Kuasa dan melakukan hal yang aneh-aneh yang tak enak rasanya. Kekeliruan itu disebabkan tidak jelasnya rasa berkuasa. Padahal kuasa adalah rasa tidak butuh.

Jadi bila kita mengerti bahwa sifat manusia itu sial karena butuh, lalu tidak mencari kuasa. Dengan sendirinya kita lalu berkuasa karena tidak butuh kuasa. Kemudian kita dapat menertawai kesialan kita sendiri. Demikian itu menyembah yang benar.

Dengan sedikit polesan verbal, frasa Ki Ageng saya tulis:

Maka, apabila inferiority yang melahirkan rasa tidak beruntung dianggap sebagai sifat, anggapan itu bisa dibenarkan. Walaupun penjabarannya masih bisa salah, sehingga manusia dalam mencari Yang Kuasa tidak perlu melakukan hal yang aneh-aneh, yang tidak membawa ketenteraman dan membahagiakan. Kesalahkaprahan itu disebabkan tidak jelasnya—apa yang disebut oleh Nietsche sebagai kehendak bebas (free will) atau dalam bahasa Ki Ageng—rasa berkuasa. Padahal kuasa adalah rasa tidak butuh terhadap apapun dan siapapun.

Jadi, bila kita telah memahami bahwa subyektivitas manusia yang berkecenderungan merasa sial (tidak beruntung) itu terjadi karena rasa butuhnya, maka kitapun tidak lagi perlu mencari kuasa. Dengan sendirinya, kita otomatis menjadi berkuasa karena tidak lagi membutuhkan kuasa yang berada di luar diri kita. Kemudian, kita pun dengan mudah menertawai kesialan (ketidak-beruntungan) kita sendiri. Demikian itulah bentuk penyembahan yang benar.

Dengan gaya bahasanya yang khas, Ki Ageng Suryomentaram menutup pembahasan Menyembah Yang Kuasa dengan kalimat seperti ini:

Rasa kuasa ialah rasa enak, maka wejangan tersebut membikin orang merasa enak. Apabila orang menanggapi wejangan dengan tepat, ia merasa berkuasa, enak, yakni hasil wejangan yang semestinya.

Salam…

Muhaji Fikriono

Membumikan Makrifat

Melihat Jawa dari berbagai sisi memang unik dan menggelitik. Namun dibalik keunikannya yang menggelitik tersebut terbentang berbagai hasanah yang akrab dengan sendi-sendi kemanusiaan. Dimana garis-garis humanis masih bersanding erat dengan masyarakatnya. 

Jika dirunut, humanisme Jawa ternyata tidak lepas dari daya kreatif serta kegeniusan para leluhurnya. Semisal Sunan Kalijaga, yang mempunyai kemasan tersendiri dalam rangka menyampaikan ajarannya.

Tidak jauh geniusnya dengan Ki Ageng Suryomentaram, putra ke-55 dari 79 keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Kegeniusan beliau tercermin dari pengejewantahannya tentang jiwa. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta jlimet, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua makhluk untuk beraktivitas.

Kecerdasan beliau akan lebih nampak jika disandingkan dengan Mulla Shadra, yang mendefinisikan jiwa sebagai subbtansi yang zatnya non materi tetapi sangat terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Begitu juga dengan pengklarifikasian jiwa. 

Jika Mulla Shadra dan Ibnu Sina menyebut gradasi jiwa dengan jiwa tumbuhan, jiwa hewan baru jiwa manusia, Ki Ageng menyederhanakannya dengan rasa dangkal, rasa dalam serta rasa sangat dalam.

Ketiga level rasa diatas menurut Ki Ageng dapat dipelajari lewat tiga perangkat inheren dalam diri setiap manusia. Pertama adalah panca indera. Kedua melalui rasa hati, yakni rasa yang dapat merasa aku, merasa senang, merasa ada dan sebagainya. Sedang yang ketiga dapat dipelajari lewat pengertian atau pemahaman. Perangkat terakhir ini berfungsi untuk menentukan suatu hal yang berasal dari panca indera dan perasaan.

Oleh Ki Ageng, mempelajari rasa dalam diri sendiri atau pangawikan pribadi sama halnya dengan mempelajari manusia dengan kemanusiaan. Karena bagaimanapun yang mempelajari adalah bagian dari makhluk yang bernama manusia. 

Maka jika berhasil mempelajari diri sendiri dengan tepat, secara otomatis juga berhasil mempelajari manusia pada umumnya. Dengan demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran pangawikan pribadi dipelajari dari sekarang, disini serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.

Gradasi rasa

Keberadaan kondisi yang bercorak hitam-putih terkadang memang masih membelenggu jiwa manusia. Hal itu disebabkan manusia kurang menyadari keberadaan alam, yang oleh Ki Ageng dibedakan menjadi empat gradasi. 

Pertama dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari luar dengan panca inderanya. Oleh Mulla Shadra, tingkatan pertama ini disebut dengan jiwa tumbuhan.

Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi rangsangan sering melenceng. 

Tingkatan kedua ini disebut sebagai benda dua dimensi atau jiwa bianatang.

Ketiga, manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya. 
Dengan demikian, manusia yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng diistilahkan dengan kramadangsa.

Kramadangsa merupakan abdi dari berbagai tipologi rekaman yang minta diistimewakan. Karena masing-masing rekaman yang tersimpan sejak lahir mulai saling menyikut agar dapat posisi tertinggi diantra rekaman yang lain. 

Artinya, hidup pada ukuran ketiga adalah ketika hidup hanya  diabdikan pada semua rekaman dan berbagai kebijakan pikiran yang mengorganisasikanya dalam ruang rasa.

Keempat, manusia empat dimensi. Yakni manusia yang tidak hanya memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu. 

Namun manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.

Pertarungan dan pembebasan

Dalam buku ini juga terdapat bagan yang mengatakan bahwa, krenteg (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa memiliki dua potensi. 

Pertama, manusia akan kembali pada level ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah manusi pada posisi ketiga.

Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke tigkatan tertinggi. 

Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi khusus untuk memotret diri orang lain.

Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.

* Peresensi Eko Sulistiyo ZA, adalah presiden pada Association of Saber Unfold Fak. Ushuluddin UIN Suka.

Sabtu, 07 September 2013

Dari Ki Ageng Suryomentaram untuk Generasi Muda

Tawaran untuk Para Remaja

Kami orang-orang yang sudah tua ini umumnya mempunyai tabiat buruk. Sudah semestinya jika para remaja mengevaluasi dengan kritis. Hampir tiap hari kami bersitegang dan berselisih dengan istri, anak, saudara, tetangga, golongan lain, orang-orang yang beragama lain, bangsa lain, dan sebagainya. Selama siang dan malam kami tak henti-hentinya saling bermusuhan, dan baru akan berhenti di saat tidur. Bahkan di dalam tidur, kami masih juga sering mimpi bertengkar.

Penyebab perselisihan kami para orang tua adalah karena kami suka berebut. Kami saling memperebutkan benda-benda untuk menutupi diri kami supaya tidak terlihat dengan telanjang oleh orang lain, juga oleh diri kami sendiri. Benda-benda yang kami perebutkan itu hanyalah untuk menutupi diri kami, dari penglihatan orang lain dan diri kami sendiri.

Misalnya kami tengah mengenakan pakaian bermerk, mobil bermerk, dan baru saja membeli sebuah rumah atau apartemen di kawasan elit, maka kami pun lantas berjalan tegak di hadapan orang banyak dengan perasaan bangga, karena merasa diri kami telah menjadi elit dan bermerk sebagaimana pakaian yang kami kenakan atau barang-barang yang baru saja kami beli.

Setiap kali kami berpapasan dengan kolega kami, tanpa mereka minta kami akan bercerita bahwa mobil kami baru, keluaran terbaru dari pabrik anu, sehingga anu, dan menjadi paling anu, sembari merasa bahwa diri kami juga turut menjadi baru dan keren seperti citra mobil baru itu. Padahal kami sebagai pribadi samasekali tak pernah baru. Bahkan ketika kami berganti “agama baru” sekalipun, kami tidak pernah bisa menjadi baru.

Karena hati kami demikian gelap, maka kami tak kunjung dapat menyadari diri kami sendiri. Ketika kami memilih ideologi baru, isme baru, komunitas baru, bahkan spiritualitas yang kami anggap baru, sesungguhnya kami hanya menjadikannya sebagai kebanggaan semata.

Meski dalam hati, kami merasa sudah selaras dengan ideologi dan spiritualitas baru kami. Kami juga merasa sudah dapat bersetiakawan, setidaknya dengan orang-orang dalam komunitas baru kami, namun dalam praktiknya kami tetap hoby bertengkar. Bahkan spiritualitas baru kami pun kami jadikan sebagai sarana alat pertengkaran.

Begitu pula ideologi baru kami. Kami jadikan sebagai sarana untuk bermusuhan dengan golongan lain, bahkan dengan bangsa lain.

Begitulah keadaan kami yang sesungguhnya, wahai para remaja. Masing-masing kami tidak ada yang memiliki kesediaan untuk merasa sama dan setara dengan orang lain. Jadi perselisihan di antara kami sebenarnya adalah ekspresi penolakan kami terhadap kebersamaan dan kesetaraan. Namun secara culas kami membungkus semua itu dengan berbagai doktrin, isme-isme, bahkan dengan ajaran agama serta spiritualitasnya.

Tentu saja kami tidak pernah sungguh-sungguh mendalami spirit dalam agama-agama kami, wahai para remaja... Karena jika kami sampai dapat memahami spirit dalam agama-agama kami, tentunya kami akan dapat melihat dengan jelas berbagai keburukan yang terus kami pelihara di dalam hati kami. Jadi mata batin kami memang tidak pernah terbuka, wahai para remaja.

Sekarang kalian semua telah mengetahui betapa buruknya hati kami. Kami telah sedemikian serakah terhadap harta benda, kedudukan, serta kekuasaan, sehingga kami senantiasa berebut di antara kami sendiri. Padahal kalian sudah paham bukan? Bahwa masyarakat terbentuk karena adanya hubungan antar pribadi. Sebagai pribadi-pribadi kami masih terus-menerus berebut.

Itu berarti masyarakat yang telah kami bentuk adalah masyarakat bobrok.

Jika kalian sudah memahami bahwa masyarakat yang terdiri dari kami orang-orang tua ini telah bobrok, maka kalian mestinya dapat memperbaharuinya. Atau, kalau belum mampu melakukan pembaruan, setidaknya kalian tidak ikut-ikutan seperti kami yang sudah kolot dan jadul ini. Itulah tawaran dari kami orang-orang tua yang telah bobrok ini, Wahai Para Remaja.

Manusia sesungguhnya mengalami revolusi  semenjak dilahirkan hingga tumbuh dewasa.

Setelah berkeluarga revolusi manusia seakan terhenti. Karena manusia mulai menyesuaikan diri dengan masyarakat yang telah bobrok, dan kemudian ikut-ikutan menjadi bobrok. Jadi ketika para remaja berusaha untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat yang ada sekarang ini, berarti secara tidak langsung telah berkeinginan untuk ma’mum menjadi bobrok.

Setelah kalian berkeluarga nanti, kalian pasti akan segera dibujuk orang-orang tua untuk turut aktif berpartisipasi guna memperkokoh masyarakat yang sudah bobrok.

Awalnya mungkin kalian hanya diundang untuk menghadiri berbagai perjamuan yang mereka adakan. Namun jika kalian tidak ngeh dan waspada, maka kalian akan segera mereka ajak untuk berebutan dalam pesta keserakahan yang tiada akhirnya.***


*) Diambil dari Puncak Makrifat Jawa (Nourabooks 2012, halaman 368-371.)

Kamis, 10 Januari 2013

Resume Bedah Buku Puncak Makrifat Jawa

Oleh: Kliwonullah Chumaidi

Buku Puncak Makrifat Jawa yang diterbitkan oleh Noura Books (Mizan Group) pada tahun 2012 ini di-launching dan dibedah pertama kali di gedung PBNU Jakarta oleh Budayawan Radhar Panca Dahana, yang juga telah menyempatkan diri memberikan pengantar di sela-sela kesibukannya yang sangat padat.

Radhar menyambut baik penerbitan buku ini dan secara khusus memberikan apresiasi yang mendalam terhadap penulisnya. Menurutnya, penulis buku ini sangat mengesankan. Karena si penulis dengan cukup tekun mendalami salah satu inti kebudayaan Nusantara, yaitu Jawa yang masih terbuka untuk dipahami dengan lebih tekun lagi.

Di tengah anak-anak muda lain yang berkecenderungan menulis segala sesuatu yang mencla-mencle, atau paling top hanya melahirkan buku-buku how to. Itu baru dari segi kerja si penulis.
Dari segi kontennya menurut Radhar, buku yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini bukan hanya penting bagi orang Jawa, tapi juga penting bagi bangsa Indonesia. Karena ia turut mengidentifikasi salah satu anasir kebudayaan yang menurutnya menjadi salah satu problem solver dari persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi bangsa ini.

Di luar dugaan, ketika buku ini dibedah kembali di gedung PP Muhammadiyah Jakarta tanggal 5 Desember 2012, juga mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari Fahd Djibran, cendikiawan muda Muhammadiyah yang kini menjadi salah seorang peneliti di LIPI.

Menurutnya buku Puncak Makrifat Jawa merupakan sebuah bentuk kerja intlektual yang serius dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Djibran yang telah membaca buku ini dari halaman pertama hingga terakhir, menemukan banyak hal di dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang peneliti yang selalu berusaha melihat segala sesuatu secara objektif, Djibran juga menyampaikan kritiknya terhadap buku ini.

Sebelum menyampaikan apresiasi dan kritiknya, Djibran terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai generasi muda Muhammadiyah yang menempuh pendidikan formal sejak SMP hingga Universitas di lingkungan Muhammadiyah. Baginya, kemuhammadiyahan adalah sesuatu yang telah mendarah daging.

Namun, karena di sisi lain Djibran juga membaca sejarah lain dan juga belajar perspektif sejarah, ia menjadi bertanya-tanya. Bahkan curiga, jangan-jangan sejarah Muhammadiyah dalam kemuhammadiyahan itu telah mengalami banyak masalah.
Termasuk absennya nilai-nilai spiritualitas essoteris. Menurut Djibran, tidak mungkin satu gerakan Islam tidak memiliki nilai-nilai itu. Namun pada kenyataannya, dalam kemuhammadiyahan yang telah ia pahami secara mendalam, nilai-nilai spiritualitas makrifat tidak ia temukan.

Setengah berkelakar Djibran berkata, “Rupanya butuh waktu satu abad, hari ini kita memanggil pulang Ki Ageng Suryomentaram.”
Dan ia menegaskan, “Ya, akhirnya saya menemukan missing link itu. Ternyata sisi-sisi eskatologis, sisi-sisi essoterisme Kyai Ahmad Dahlan itu sebetulnya ada dalam Ki Ageng Suryomentaram. Jadi, kalau mau belajar Muhammadiyah, memang mesti belajar dari kemuhammadiyahan. Tetapi bagaimana memahami pemahaman Islam KH. Ahmad Dahlan—dari yang paling sepele sampai yang paling serius, sampai yang paling hakiki—harus membaca Ki Ageng Suryomentaram.”

Kesimpulan Djibran di atas didasarkan pada fakta sejarah bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid adzdzukarrah-nya Kyai Ahmad Dahlan. Yaitu murid yang belajar langsung dengan lutut ketemu lutut.

Kyai Ahmad Dahlan adalah Katib Amin di Masjid Kauman, dan Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang putra Hamengku Buwono VII. Sesuai dengan data-data yang ditemukannya, Djibran menyimpulkan bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid kinasih Kyai Ahmad Dahlan (Ngabdul Darwis) yang terkait dengan kemakrifatan dan semacamnya.

Setelah mendedah tentang risetnya bersama tim ahli selama sekitar 6 tahun tentang kebudayaan Jawa dari candi ke candi mulai Yogyakarta ke Surabaya hingga Banyuwangi, di mana ia mempertanyakan banyak hal yang berbeda secara diametral dengan kesimpulan para peneliti kejawaan sebelumnya seperti Mark R Woodward, Clifford Geertz, dan Dennis Lombard.

Djibran menyampaikan kritiknya terhadap buku Puncak Makrifat Jawa, yang menurutnya ditulis dengan cara yang personal dan perlu diperkuat lagi dengan metodologi riset tentang sejarah serta cara penulisannya agar buku ini dapat berkontribusi secara signifikan dalam merekonstruksi “sejarah yang hilang” tentang Islam di tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya.
Hal lain yang tidak disetujui oleh Djibran adalah ketika seolah-olah penulis buku Puncak Makrifat Jawa ini menyejajarkan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dengan corak filsafat Timur Tengah yang sesungguhnya sangat berbeda. Filsafat Nusantara menurut Djibran selalu menitikberatkan tentang mikrokosmos, sementara filsafat Timur Tengah lebih terfokus pada makro kosmos.

Namun terlepas dari kekurangannya tersebut, Djibran sangat mengapresiasi buku Puncak Makrifat Jawa yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini sebagai sebuah buku yang luar biasa.

Ia menegaskan, “Ini belum sempurna, tetapi kalau kita sama-sama mendukung ini, ini akan menjadi temuan yang luar biasa. Bukan hanya bagi keluarga Ki Ageng Suryomentaram, tapi juga bermanfaat bagi Muhammadiyah. Bukan hanya bermanfaat bagi Nusantara, tapi juga bagi peradaban dunia.”

Sebelum menutup diskusi, sebagai pribadi yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, Djibran menyampaikan rasa terimakasihnya yang mendalam terhadap Nahdlatul Ulama yang telah menjaga dan melestarikan tradisi Islam Nusantara.

Sementara itu ketika buku ini dibedah di Universitas Indonesia tanggal 20 Desember 2013 atas inisiatif para mahasiswa dari Fakultas Sastra Jawa, KRT. Dr. Sajidi Hadipoetro Husadaningrat yang merupakan staf pengajar pascasarjana Fakultas Kedokteran UI juga menyampaikan apresiasinya yang cukup mendalam.

Dr. Sajidi yang mengenal secara pribadi penulisnya lebih dari sepuluh tahun lamanya, menegaskan bahwa buku Puncak Makrifat Jawa sebagai karya tulis telah memenuhi persyaratan yang diistilahkannya sebagai FINER. Yaitu Fisibility atau penguasaan terhadap obyek yang ditulis, Intresting atau pencurahan kegelisahan sebagai upaya untuk menemukan jalan keluar, Novelty atau mengandung sesuatu yang baru, Educate atau memiliki unsur pendidikan, dan Relevance atau mempunyai keterkaitan dengan persoalan kekinian.

Adapun Dr. Muhammad Hikam, Ketua Program Vokasi UI, selain mengapresiasi kehadiran buku Puncak Makrifat Jawa ini juga menyampaikan kritiknya sebagaimana Dr. Sajidi, bahwa gaya penulisan buku ini memang agak berbeda dengan buku-buku lain pada umumnya di mana susunan bab per babnya terkesan tumpang tindih, atau tepatnya tidak sistematis dalam bahasa akademisnya.

Semula, sebagai doktor yang biasa menguji tesis S3, S2, dan S1, Dr. Hikam seperti biasa membaca dahulu mukadimah dan langsung ke kesimpulan buku ini. “Namun saya malah pusing sendiri. Ini barangkali pancingan dari penulisnya agar saya membaca semuanya,” demikian komentarnya.

Menanggapi kritik dari semua pembedah bukunya, Muhaji Fikriono mengakui dengan terus terang bahwa dirinya memang tidak memiliki kompetensi untuk menulis buku-buku akademis.
“Benar, saya memang belum memiliki bekal yang cukup untuk dapat menulis buku yang akademis. Tapi Insya Allah buku-buku saya akan tetap dapat memberikan manfaat karena saya menuliskannya dengan sepenuh rasa yang ada pada diri saya. Yaitu rasa sama sebagai salah seorang manusia,” demikian penegasan penulis buku Puncak Makrifat Jawa.
                                                                                                           
Ujung Berung, 9 Januari 2013.

Senin, 03 September 2012

Sinopsis buku Puncak Makrifat Jawa


 Judul: Puncak Makrifat Jawa; Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram.
Penulis: Muhaji Fikriono
Editor: Abdullah Wong
Pengantar: Radhar Panca Dahana
Penerbit: Noura Books (Mizan Group)
Ukuran: 15 x 23 cm, 474 halaman.
Cetakan I, Juli 2012
Harga: Rp 86.000,-

PUNCAK MAKRIFAT JAWA
Bersahabat dengan Reribed (Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram)

Pengetahuan atau ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia sebagaimana makanan dan minuman atau udara dalam melangsungkan hidup dan kehidupan. Secara substansial, pengetahuan manusia sesungguhnya tidak terbatas. Karena pada saat manusia tidak mengetahui sekalipun, ternyata manusia masih bisa mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Karena sifatnya yang tak terbatas itu, maka pengetahuan sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apa dan siapa pun. Dalam hal ini pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh ideologi, filsafat, moralitas, bahkan agama sekalipun.

Maka perlu ditegaskan kepada sidang pembaca, bahwa pengetahuan yang dibahas dalam buku ini sama sekali bukan pengetahuan agama, mistisisme, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan bukan pula budi pekerti atau etika yang menganjurkan dan melarang tingkah laku tertentu. Pengetahuan yang didedah dalam buku ini lebih merupakan hasil dari memahami dan mengalami sesuatu yang benar-benar telah diketahui.

Di sinilah sosok Ki Ageng Suryomentaram memberikan satu pencerahan. Bahkan untuk mengalami dan demi mendapatkan pengetahuan yang utuh itu, ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan selama kurang lebih 40 tahun. Ki Ageng Suryomentaram yang dilahirkan pada 20 Mei 1892 adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ki Ageng meninggal pada 18 Maret 1962, di Yogyakarta. Seperti halnya tokoh sufi Ibrahim Ibnu Adham dan Sidharta Gautama, Ki Ageng Suryomentaram juga mengalami kegelisahan batin yang mendalam meskipun ia hidup di dalam keraton. Ia pun kabur dan menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya, Natadangsa.

Selama pengembaraan dan tirakatnya itulah berbagai temuan dan pencerahan ia dapatkan. Dari berbagai karya dan tulisannya, satu diantaranya adalah Buku ‘Langgar’.

Bagi Ki Ageng Suryomentaram, obyek pengetahuan yang benar-benar dapat kita ketahui ada dua macam. Pertama, obyek pengetahuan yang hanya bisa diketahui secara menyeluruh atau utuh (Barang Asal). Sesuatu yang utuh (mutlak) tentu saja tak cukup dipahami hanya dengan indera, tak cukup dihitung secara matematis, tak cukup dibagi secara parsial, terlebih dikotak dalam imaji ruang-waktu. Bukankah kemutlakan itu “mengatasi” semua dualitas bahkan keragaman yang selama ini hadir dalam pikiran manusia?

Kedua, adalah obyek pengetahuan yang bisa diperinci atau dapat dihitung dan dibagi-bagi. Tentu saja obyek ini merupakan derivasi dari Barang Asal. Obyek pengetahuan yang kedua ini oleh Ki Ageng disebut sebagai Barang Jadi atau sesuatu yang diadakan (dumadi atau maujud). Sifat dasar dari Barang Jadi adalah kebalikan dari Barang Asal, yakni dapat dihitung, selalu terikat ruang-waktu, dan bisa diindera.

Karena Barang Jadi dapat mengada sebab adanya Barang asal, maka Barang Asal boleh dibilang sebagai Yang Mewujudkan Barang Jadi. Pengetahuan yang berkaitan dengan Barang Asal inilah yang kemudian disebut sebagai pokok ilmu pengetahuan. Menurut Ki Ageng, cara mendapatkan ilmu Barang Asal, sangat berbeda bahkan berlawanan dengan cara memikirkan ilmu Barang Jadi. Mendapatkan ilmu Barang Asal tidak memerlukan pertanyaan berapa, bagaimana, kenapa, kapan, dan di mana.

Itulah diantara prinsip-prinsip pengetahun temuan Ki Ageng Suryomentaram yang tertuang dalam Buku ‘Langgar’, sebuah buku yang berisi kumpulan surat dan catatan-catatan Ki Ageng Suryomentaram yang ditulis dari tahun 1920 hingga 1928. Langgar sendiri adalah nama lain dari musholla, yakni tempat yang biasa digunakan Ki Ageng selama menuliskan risalahnya.

Buku ‘Langgar’ yang semula berbahasa Jawa ini kemudian diterjemahkan dan diberikan penjelasan secara mendalam oleh Muhaji Fikriono. Dalam hal ini, Muhaji Fikriono memberi kesempatan kepada pembaca untuk menelusuri lebih jauh perenungan dan temuan-temuan Ki Ageng. Sebelumnya, Muhaji Fikriono menulis buku ‘Makrifat Jawa untuk Semua’ yang lebih merupakan pengantar atas perenungan Ki Ageng Suryomentaram.
Maka, dalam buku ini Muhaji yang juga pernah menulis ‘Hikam untuk Semua’ secara tekun dan penuh penghayatan mencoba menelusuri relung-relung pengetahuan Ki Ageng Suryomentaram dengan lebih mendalam.

Kehadiran ‘Risalah’ Ki Ageng yang kemudian diberi judul Puncak Makrifat Jawa ini semakin menarik dikaji karena diapresiasi oleh seseorang yang memiliki latar belakang tradisi pesantren yang ketat sekaligus pengalaman hidup yang getir dan dilematis.

Tak heran, bila pertemuan Aji—demikian ia akrab disapa—dengan khasanah Ki Ageng Suryomentaram seakan menempatkan dirinya sebagai “murid” yang bertemu “Guru”. Bahkan dalam buku ini pula, penulis menyejajarkan sosok Guru Ageng Suryomentaram dengan sosok Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, karena kejeniusan Ki Ageng dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi khasanah jiwa manusia (Kawruh Jiwa). [editor]***