"RUMAOS LERES punika, yen dipun ucapaken utawi dipun serat, temtu kirang candra langkung warna. Awit saking gaibipun, sampun ingkang pacakan manungsa, sanajan malaikat Mukarabin, boten sumerep. ... tiyang ingkang wonten ing sak-intiping naraka TANSAH RUMAOS LERES." (Buku 'LANGGAR')
Tampilkan postingan dengan label Makrifat Jawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makrifat Jawa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 September 2013
Membumikan Makrifat
Melihat Jawa dari berbagai sisi memang unik dan menggelitik. Namun dibalik keunikannya yang menggelitik tersebut terbentang berbagai hasanah yang akrab dengan sendi-sendi kemanusiaan. Dimana garis-garis humanis masih bersanding erat dengan masyarakatnya.
Jika dirunut, humanisme Jawa ternyata tidak lepas dari daya kreatif serta kegeniusan para leluhurnya. Semisal Sunan Kalijaga, yang mempunyai kemasan tersendiri dalam rangka menyampaikan ajarannya.
Tidak jauh geniusnya dengan Ki Ageng Suryomentaram, putra ke-55 dari 79 keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Kegeniusan beliau tercermin dari pengejewantahannya tentang jiwa. Jiwa yang dalam literatur tasawuf dan psikologi umum terlihat begitu rumit serta jlimet, oleh Ki Ageng disederhanakan hanya sebatas rasa. Karena rasalah daya yang mendorong semua makhluk untuk beraktivitas.
Kecerdasan beliau akan lebih nampak jika disandingkan dengan Mulla Shadra, yang mendefinisikan jiwa sebagai subbtansi yang zatnya non materi tetapi sangat terikat dengan materi dalam aktivitasnya. Begitu juga dengan pengklarifikasian jiwa.
Jika Mulla Shadra dan Ibnu Sina menyebut gradasi jiwa dengan jiwa tumbuhan, jiwa hewan baru jiwa manusia, Ki Ageng menyederhanakannya dengan rasa dangkal, rasa dalam serta rasa sangat dalam.
Ketiga level rasa diatas menurut Ki Ageng dapat dipelajari lewat tiga perangkat inheren dalam diri setiap manusia. Pertama adalah panca indera. Kedua melalui rasa hati, yakni rasa yang dapat merasa aku, merasa senang, merasa ada dan sebagainya. Sedang yang ketiga dapat dipelajari lewat pengertian atau pemahaman. Perangkat terakhir ini berfungsi untuk menentukan suatu hal yang berasal dari panca indera dan perasaan.
Oleh Ki Ageng, mempelajari rasa dalam diri sendiri atau pangawikan pribadi sama halnya dengan mempelajari manusia dengan kemanusiaan. Karena bagaimanapun yang mempelajari adalah bagian dari makhluk yang bernama manusia.
Maka jika berhasil mempelajari diri sendiri dengan tepat, secara otomatis juga berhasil mempelajari manusia pada umumnya. Dengan demikian, alangkah eloknya jika pembelajaran pangawikan pribadi dipelajari dari sekarang, disini serta penuh keberanian menghadapai segalanya apa adanya.
Gradasi rasa
Keberadaan kondisi yang bercorak hitam-putih terkadang memang masih membelenggu jiwa manusia. Hal itu disebabkan manusia kurang menyadari keberadaan alam, yang oleh Ki Ageng dibedakan menjadi empat gradasi.
Pertama dimensi tunggal. Dimensi yang berupa garis ini sebagai analogi untuk bayi, yang kemampuannya baru sebatas merekam berbagai rangsangan dari luar dengan panca inderanya. Oleh Mulla Shadra, tingkatan pertama ini disebut dengan jiwa tumbuhan.
Seseorang dapat dikatakan memasuki gradasi kedua jika telah mampu mengorganisasikan atau membentuk tipologi dari berbagai jenis rekaman di dalam ruang rasa. Dengan kata lain, manusia pada tingkatan kedua ini mulai sedikit sadar untuk mengekspresikan rangsangan-rangsangan dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri. Namun dalam bertindak tersebut tidak berdasarkan akal dan hati, sehingga akibat reaksinya dalam menghadapi rangsangan sering melenceng.
Tingkatan kedua ini disebut sebagai benda dua dimensi atau jiwa bianatang.
Ketiga, manusia tiga dimensi. Dalam fase ini, manusia sudah mampu memberdayakan akalnya untuk berfikir, sehingga dapat memahami hukum-hukum alam. Namun tidak dengan hatinya.
Dengan demikian, manusia yang bertempat pada level ketiga ini hidupnya didominasi oleh ego, atau yang oleh Ki Ageng diistilahkan dengan kramadangsa.
Kramadangsa merupakan abdi dari berbagai tipologi rekaman yang minta diistimewakan. Karena masing-masing rekaman yang tersimpan sejak lahir mulai saling menyikut agar dapat posisi tertinggi diantra rekaman yang lain.
Artinya, hidup pada ukuran ketiga adalah ketika hidup hanya diabdikan pada semua rekaman dan berbagai kebijakan pikiran yang mengorganisasikanya dalam ruang rasa.
Keempat, manusia empat dimensi. Yakni manusia yang tidak hanya memiliki ukuran panjang, lebar serta tinggi dalam dimensi ruang dan waktu.
Namun manusia pada tingkatan terakhir ini juga memiliki rasa yang dapat melintasi ruang dan waktu. Karena selain kemampuan analisisnya telah sampai pada hukum alam, manusia ini juga memiliki kebijaksanaan yang bersumber dari rasa. Rasa inilah yang oleh Ki Ageng disebut sebagai rasa yang dapat berkembang, yakni rasa yang tidak mungkin dapat dirasakan hewan, apalagi tumbuhan.
Pertarungan dan pembebasan
Dalam buku ini juga terdapat bagan yang mengatakan bahwa, krenteg (gerak hati) yang lahir dari dalam diri serta berasal dari rekaman ruang rasa memiliki dua potensi.
Pertama, manusia akan kembali pada level ketiga, yakni hidup dalam kendali kramadangsa. Semisal marah. Jika dalam keadaan marah justru memikirkan bagaimana cara melampiaskan marah, maka kembalilah manusi pada posisi ketiga.
Namun sebaliknya, jika dalam keadaan marah yang terpikir adalah apa itu Marah, bagaimana karakter dan apa tujuannya, maka manusia menuju ke tigkatan tertinggi.
Gradasi tertinggi ini adalah manusia yang telah terbebas dari dominasi egonya sendiri dalam bertindak. Ukuran terakhir ini oleh Ki Ageng disebut sebagai instrument dalam diri, yang berfungsi khusus untuk memotret diri orang lain.
Keberhasilan seseorang dalam meraih puncak rasa merupakan suatu keistimewaan tersendiri. Karena jika bersinggungan dengan realitas (masyarakat), manusia tanpa ciri akan selalu merasa damai sebab tidak harus berselisih. Manusia tanpa ciri adalah manusia bumi yang mampu membumi.
* Peresensi Eko
Sulistiyo ZA, adalah presiden pada Association of Saber Unfold Fak. Ushuluddin UIN Suka.
Memahami Makrifat Jawa
“Man’ arafa nafsahu faqad’arafa Rabbahu” Orang yang telah memahami dirinya otomatis makrifat kepada Tuhannya.
Terlebih, bagi masyarakat yang hidup di sekitar keraton warisan budaya tersebut selalu di pertahankan secara turun- temurun. Lantas, menjadi penanda identitas bagi masyarakat Jawa secara keseluruhan.
Menurut Rasyidi,(1996) orang Jawa memiliki falsafah aliran kebatinan tersendiri yakni, “Sepi ing Pamrih, rame ing gawe” dan ikut “memayu hayuning Bawana”.
Maksudnya, banyak bekerja bhakti tanpa mementingkan keuntungan pribadi dan ikut membentuk dunia yang indah dan makmur. Ironisnya, kini ajaran-ajaran kearifan lokal justeru semakin kehilangan makna di hati masyarakat “jawa” modern.
Bila kita telusuri, di Jawa banyak sekali warisan agung mengenai ajaran kearifan lokal yang sudah mapan. Misalnya, Serat Dewa Ruci, Suluk Gatholoco, Suluk Darmogandhul, Serat Syeh Siti Jenar, dan Serat Wirid Hidayat Jati Raya untuk di pelajari generasi selanjutnya.
Ironisnya, semua itu kini kurang diminati. Tentu, ada berbagai persoalan yang menjadi penyebab ketidakpedulian masyarakat Jawa modern terhadap tradisi para leluhurnya.
Penyebabnya adalah masyarakat Jawa modern sudah banyak yang terkontaminasi dengan budaya modern. Yang sedikit banyak justeru mendorong manusia mengejar materi ketimbang mencari jati diri. Akhirnya, tidak sedikit dari masyarakat modern krisis spiritual.
Buku “Makrifat Jawa Untuk Semua”ini, hendak memperkenalkan salah satu khazanah kearifan lokal “tasawuf” yang pernah membumi di tanah Jawa kepada kita. Yaitu, ajaran ki Ageng Suryamentaram dari Ngayogyakarto. Ada tiga pembahasan makrifat Jawa yang di ulas oleh Abdurrahman Asiy di buku ini, yakni Relasi Takdir Tuhan dan Pilihan Bebas Manusia, Cinta Kuasa Manusia, Makrifat.
Ketiganya, merupakan mutiara yang penuh makna. Baik di tinjau dari kajian filsafat maupun tasawuf.
Diakui maupun tidak, manusia sebagai makhluk pencari makna kerap jatuh putus asa dan mencari berbagai cara untuk mencari alternatif supaya dapat menenangkan bathinnya. Terlebih bagi kita yang hidup di zaman seperti sekarang ini, banyak gejolak bathin yang tak mampu di selesaikannya. Bahkan, masyarakat di Barat sendiri untuk mencari jati dirinya banyak melakukan berbagai meditasi.
Kembali ke ajaran ma’rifat Jawa, menurut Ki Ageng, manusia dapat mempelajari atau mengetahui segala sesuatu melalui tiga macam perangkat dalam diri.
Pertama, melalui panca indera yakni, penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Kedua, melalui rasa hati, rasa yang merasa aku, merasa ada, senang, dan susah. Ketiga, melalui pengertian atau pemahaman yang berguna untuk menentukan suatu hal yang berasal dari pancaindera dan perasaan. Dengan menjadikan diri sebagai “pengawilan pribadi”objek, kita dapat mempelajari manusia secara keseluruhan. (hal,52)
Ajaran tasawuf Ki Ageng Suryomentaram ini, dapat menjadi resep mujarab bagi kita dalam kehidupan yang universal. Serta, mendorong diri kita untuk menghadapi apa yang saat ini terjadi dengan mengedepankan keluhuran kemanusiaan.
Abdurrahman El Ashiy memberikan tips kepada kita untuk menempa diri(yang di ambil dari ajaran Ki Ageng). Pertama, mengamati dan meneliti rasa bathin kita yang muncul serta bertanya dan menjawabnya dengan jujur.
Kedua, membangkitkan kesadaran sejati”aku sejati” supaya senatiasa menjadi subjek dalam menghayati kehidupan dengan penuh kesabaran dan memiliki keberanian menghadapi kenyataan hidup. Ketiga, mengambil keputusan atau menentukan sikap atau tindakan berdasarkan situasi dan kondisi yang sedang dihadapi dengan meng kritik nilai-nilai yang kita yakini.
Buku ini, membantu kita memahami ajaran kearifan lokal yang sudah pernah membumi di tanah Jawa. Apalagi di tengah absennya masyarakat Jawa “modern” yang kini banyak tidak tertarik akan ajaran kearifan lokal. Penting kiranya, menggali khazanah warisan agung para leluhur kita untuk dipelajari.
Menurut saya, kehadiran buku ini amat tepat.
Memahami makrifat Jawa sebagai upaya memupuk jiwa kita menjadi penting. Dan, menjadi alat control bagi kita untuk menyingkirkan sikap egoisme, keserakahan, dan keasyikan pada dunia. Tak pelak, buku ini bisa menghantarkan seseorang yang berminat untuk menemukan arti hidup dengan ajaran tasawuf.
*)Ahmad Faozan, Ketua Himasakti (Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) Yogyakarta.
Menjelajah Ruang Rasa dan Mengembangkan Kecerdasan Batin bersama Ki Ageng Suryomentaram
Filsafat Jawa menyimpan lapisan-lapisan ilmu pengetahuan tentang moral, etika, hingga pengetahuan tentang "rasa". Filsuf dan begawan Jawa telah memberi kabar tentang masa depan, ilmu kemanusiaan, politik kuasa, hingga hubungan dengan alam dan Tuhan. Kisah-kisah kebatinan Jawa telah ditulis Ranggawarsita, Puradisastra, hingga Suryamentaram. Dan, nama terakhir inilah yang merupakan pangeran keraton yang menulis syair dan rahasia kemanusiaan.
Buku karya Abdurrahman el-Ashiy ini mengungkap biografi intelektual dan pandangan filsafat Ki Ageng Suryamentaram. Tokoh yang dibahas dalam buku ini merupakan filsuf Jawa yang hidup pada abad ke- 21. Ia ahli waris trah Keraton Ngayogyakarta dari Sultan Hamengku Buwono VII, tapi menolak sebagai pangeran agar mampu hidup damai dan menemukan kebahagiaan sejati.
Ia lahir pada 20 Mei 1892 dengan nama kecil Bendara Raden Mas Kudiarmadji, sebagai putra ke-55 dari 79 putra-putri Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Ibundanya, Bendara Raden Ayu Retnomandoyo, adalah putri patih Danurejo VI yang bergelar Pangeran Cakraningrat. Pada usia 18 tahun, Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryamentaram.
Namun penganugerahan ini justru menggelisahkannya. Kesedihannya memuncak tatkala kakeknya, Pangeran Cakraningrat, diberhentikan dari jabatan patih dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sedangkan ibundanya diceraikan Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Istri yang dicintainya pun wafat ketika anaknya baru berusia 40 hari.
Berbagai peristiwa tragis yang menimpa sang pangeran itu membuatnya sedih dan frustrasi. Ia lalu mengajukan pengunduran diri sebagai pangeran dan ingin pergi ke Tanah Suci Mekkah untuk menenangkan diri. Tapi permintaan itu ditolak ayahnya. Keinginan itu baru dikabulkan Sultan Hamengku Buwono VIII. Kemudian ia pindah ke daerah Bringin di Salatiga.
Nama Ki Ageng Suryamentaram adalah pemberian sahabatnya, Ki Hadjar Dewantara. Mereka sering berdiskusi tentang masalah kehidupan manusia, situasi keindonesiaan, serta penjajahan Belanda dan Jepang.
Perenungannya tentang kehidupan dan pengalaman pribadinya kemudian menggumpal dalam satu ajaran tentang kearifan yang disebutnya kramadangsa. Ia menggunakan dirinya sendiri untuk bereksperimen, semisal menyeberangi sungai banjir dan kemudian hampir meninggal. Ia menggunakan pengalaman itu sebagai cara untuk mengetahui kedalaman batinnya.
Ki Ageng menuturkan, "Dalam diri setiap manusia terdapat pencatat atau perekam yang merekam berbagai keadaan dan peristiwa. Rekaman-rekaman itu awalnya tersusun secara acak, tapi kemudian terorganisasi sesuai corak dan jenisnya. Berbagai rekaman yang masih acak itulah yang kemudian melahirkan rasa kramadangsa, yaitu rasa keakuan atau ego, yang kemudian tumbuh sebagai pemikir yang mendominasi ruang rasa kita" (halaman 58).
Kradamangsa alias "filsafat rasa" inilah yang menggerakkan batin, imajinasi, dan intuisi seseorang. Ki Ageng Suryamentaram mengklasifikasi benda-benda yang ada di alam semesta ini menjadi empat macam, dari benda berdimensi tunggal hingga yang berdimensi empat. Dan keempat jenis wujud benda itu tercakup dalam diri manusia.
Menurut Ki Ageng, dalam tahap keempat inilah, manusia menemukan makna sejati, yakni dapat mengetahui diri sendiri, merasakan emosi orang lain, hingga akan timbul kebijaksanaan. Istilah "ukuran keempat" yang diciptakan Ki Ageng Suryamentaram ini tak berbeda dari istilah "budi" yang dipakai R. Ng. Ranggawarsita, filsuf besar Jawa pendahulunya.
Buku anggitan Abdurrahman el-Ashiy ini sangat menarik. Ia membandingkan ajaran Ki Ageng Suryamentaram dengan filsafat wujud Mulla Sadra al-Ghazali dan ilmu hikmah Ibnu Athaillah. "Filsafat rasa" Ki Ageng Suryamentaram menuturkan dengan lembut konsepsi eksistensi manusia dengan refleksi diri untuk toleransi kemanusiaan.
Filsafat rasa inilah yang perlu dijadikan referensi untuk menggali etika dan moral manusia Indonesia yang sedang tersandera oleh gemerlap materi dan konflik politik yang tak berujung.
Oleh: Munawir Aziz, Nominator beasiswa unggulan bidang riset Kemendikbud, mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta.
Kamis, 10 Januari 2013
Resume Bedah Buku Puncak Makrifat Jawa
Oleh: Kliwonullah Chumaidi
Buku Puncak Makrifat Jawa yang diterbitkan oleh Noura Books (Mizan Group) pada tahun 2012 ini di-launching dan dibedah pertama kali di gedung PBNU Jakarta oleh Budayawan Radhar Panca Dahana, yang juga telah menyempatkan diri memberikan pengantar di sela-sela kesibukannya yang sangat padat.
Radhar menyambut baik penerbitan buku ini dan secara khusus memberikan apresiasi yang mendalam terhadap penulisnya. Menurutnya, penulis buku ini sangat mengesankan. Karena si penulis dengan cukup tekun mendalami salah satu inti kebudayaan Nusantara, yaitu Jawa yang masih terbuka untuk dipahami dengan lebih tekun lagi.
Di tengah anak-anak muda lain yang berkecenderungan menulis segala sesuatu yang mencla-mencle, atau paling top hanya melahirkan buku-buku how to. Itu baru dari segi kerja si penulis.
Dari segi kontennya menurut Radhar, buku yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini bukan hanya penting bagi orang Jawa, tapi juga penting bagi bangsa Indonesia. Karena ia turut mengidentifikasi salah satu anasir kebudayaan yang menurutnya menjadi salah satu problem solver dari persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi bangsa ini.
Di luar dugaan, ketika buku ini dibedah kembali di gedung PP Muhammadiyah Jakarta tanggal 5 Desember 2012, juga mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari Fahd Djibran, cendikiawan muda Muhammadiyah yang kini menjadi salah seorang peneliti di LIPI.
Menurutnya buku Puncak Makrifat Jawa merupakan sebuah bentuk kerja intlektual yang serius dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Djibran yang telah membaca buku ini dari halaman pertama hingga terakhir, menemukan banyak hal di dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang peneliti yang selalu berusaha melihat segala sesuatu secara objektif, Djibran juga menyampaikan kritiknya terhadap buku ini.
Sebelum menyampaikan apresiasi dan kritiknya, Djibran terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai generasi muda Muhammadiyah yang menempuh pendidikan formal sejak SMP hingga Universitas di lingkungan Muhammadiyah. Baginya, kemuhammadiyahan adalah sesuatu yang telah mendarah daging.
Namun, karena di sisi lain Djibran juga membaca sejarah lain dan juga belajar perspektif sejarah, ia menjadi bertanya-tanya. Bahkan curiga, jangan-jangan sejarah Muhammadiyah dalam kemuhammadiyahan itu telah mengalami banyak masalah.
Termasuk absennya nilai-nilai spiritualitas essoteris. Menurut Djibran, tidak mungkin satu gerakan Islam tidak memiliki nilai-nilai itu. Namun pada kenyataannya, dalam kemuhammadiyahan yang telah ia pahami secara mendalam, nilai-nilai spiritualitas makrifat tidak ia temukan.
Setengah berkelakar Djibran berkata, “Rupanya butuh waktu satu abad, hari ini kita memanggil pulang Ki Ageng Suryomentaram.”
Dan ia menegaskan, “Ya, akhirnya saya menemukan missing link itu. Ternyata sisi-sisi eskatologis, sisi-sisi essoterisme Kyai Ahmad Dahlan itu sebetulnya ada dalam Ki Ageng Suryomentaram. Jadi, kalau mau belajar Muhammadiyah, memang mesti belajar dari kemuhammadiyahan. Tetapi bagaimana memahami pemahaman Islam KH. Ahmad Dahlan—dari yang paling sepele sampai yang paling serius, sampai yang paling hakiki—harus membaca Ki Ageng Suryomentaram.”
Kesimpulan Djibran di atas didasarkan pada fakta sejarah bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid adzdzukarrah-nya Kyai Ahmad Dahlan. Yaitu murid yang belajar langsung dengan lutut ketemu lutut.
Kyai Ahmad Dahlan adalah Katib Amin di Masjid Kauman, dan Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang putra Hamengku Buwono VII. Sesuai dengan data-data yang ditemukannya, Djibran menyimpulkan bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid kinasih Kyai Ahmad Dahlan (Ngabdul Darwis) yang terkait dengan kemakrifatan dan semacamnya.
Setelah mendedah tentang risetnya bersama tim ahli selama sekitar 6 tahun tentang kebudayaan Jawa dari candi ke candi mulai Yogyakarta ke Surabaya hingga Banyuwangi, di mana ia mempertanyakan banyak hal yang berbeda secara diametral dengan kesimpulan para peneliti kejawaan sebelumnya seperti Mark R Woodward, Clifford Geertz, dan Dennis Lombard.
Djibran menyampaikan kritiknya terhadap buku Puncak Makrifat Jawa, yang menurutnya ditulis dengan cara yang personal dan perlu diperkuat lagi dengan metodologi riset tentang sejarah serta cara penulisannya agar buku ini dapat berkontribusi secara signifikan dalam merekonstruksi “sejarah yang hilang” tentang Islam di tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya.
Hal lain yang tidak disetujui oleh Djibran adalah ketika seolah-olah penulis buku Puncak Makrifat Jawa ini menyejajarkan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dengan corak filsafat Timur Tengah yang sesungguhnya sangat berbeda. Filsafat Nusantara menurut Djibran selalu menitikberatkan tentang mikrokosmos, sementara filsafat Timur Tengah lebih terfokus pada makro kosmos.
Namun terlepas dari kekurangannya tersebut, Djibran sangat mengapresiasi buku Puncak Makrifat Jawa yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini sebagai sebuah buku yang luar biasa.
Ia menegaskan, “Ini belum sempurna, tetapi kalau kita sama-sama mendukung ini, ini akan menjadi temuan yang luar biasa. Bukan hanya bagi keluarga Ki Ageng Suryomentaram, tapi juga bermanfaat bagi Muhammadiyah. Bukan hanya bermanfaat bagi Nusantara, tapi juga bagi peradaban dunia.”
Sebelum menutup diskusi, sebagai pribadi yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, Djibran menyampaikan rasa terimakasihnya yang mendalam terhadap Nahdlatul Ulama yang telah menjaga dan melestarikan tradisi Islam Nusantara.
Sementara itu ketika buku ini dibedah di Universitas Indonesia tanggal 20 Desember 2013 atas inisiatif para mahasiswa dari Fakultas Sastra Jawa, KRT. Dr. Sajidi Hadipoetro Husadaningrat yang merupakan staf pengajar pascasarjana Fakultas Kedokteran UI juga menyampaikan apresiasinya yang cukup mendalam.
Dr. Sajidi yang mengenal secara pribadi penulisnya lebih dari sepuluh tahun lamanya, menegaskan bahwa buku Puncak Makrifat Jawa sebagai karya tulis telah memenuhi persyaratan yang diistilahkannya sebagai FINER. Yaitu Fisibility atau penguasaan terhadap obyek yang ditulis, Intresting atau pencurahan kegelisahan sebagai upaya untuk menemukan jalan keluar, Novelty atau mengandung sesuatu yang baru, Educate atau memiliki unsur pendidikan, dan Relevance atau mempunyai keterkaitan dengan persoalan kekinian.
Adapun Dr. Muhammad Hikam, Ketua Program Vokasi UI, selain mengapresiasi kehadiran buku Puncak Makrifat Jawa ini juga menyampaikan kritiknya sebagaimana Dr. Sajidi, bahwa gaya penulisan buku ini memang agak berbeda dengan buku-buku lain pada umumnya di mana susunan bab per babnya terkesan tumpang tindih, atau tepatnya tidak sistematis dalam bahasa akademisnya.
Semula, sebagai doktor yang biasa menguji tesis S3, S2, dan S1, Dr. Hikam seperti biasa membaca dahulu mukadimah dan langsung ke kesimpulan buku ini. “Namun saya malah pusing sendiri. Ini barangkali pancingan dari penulisnya agar saya membaca semuanya,” demikian komentarnya.
Menanggapi kritik dari semua pembedah bukunya, Muhaji Fikriono mengakui dengan terus terang bahwa dirinya memang tidak memiliki kompetensi untuk menulis buku-buku akademis.
“Benar, saya memang belum memiliki bekal yang cukup untuk dapat menulis buku yang akademis. Tapi Insya Allah buku-buku saya akan tetap dapat memberikan manfaat karena saya menuliskannya dengan sepenuh rasa yang ada pada diri saya. Yaitu rasa sama sebagai salah seorang manusia,” demikian penegasan penulis buku Puncak Makrifat Jawa.
Ujung Berung, 9 Januari 2013.
Buku Puncak Makrifat Jawa yang diterbitkan oleh Noura Books (Mizan Group) pada tahun 2012 ini di-launching dan dibedah pertama kali di gedung PBNU Jakarta oleh Budayawan Radhar Panca Dahana, yang juga telah menyempatkan diri memberikan pengantar di sela-sela kesibukannya yang sangat padat.
Radhar menyambut baik penerbitan buku ini dan secara khusus memberikan apresiasi yang mendalam terhadap penulisnya. Menurutnya, penulis buku ini sangat mengesankan. Karena si penulis dengan cukup tekun mendalami salah satu inti kebudayaan Nusantara, yaitu Jawa yang masih terbuka untuk dipahami dengan lebih tekun lagi.
Di tengah anak-anak muda lain yang berkecenderungan menulis segala sesuatu yang mencla-mencle, atau paling top hanya melahirkan buku-buku how to. Itu baru dari segi kerja si penulis.
Dari segi kontennya menurut Radhar, buku yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini bukan hanya penting bagi orang Jawa, tapi juga penting bagi bangsa Indonesia. Karena ia turut mengidentifikasi salah satu anasir kebudayaan yang menurutnya menjadi salah satu problem solver dari persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi bangsa ini.
Di luar dugaan, ketika buku ini dibedah kembali di gedung PP Muhammadiyah Jakarta tanggal 5 Desember 2012, juga mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari Fahd Djibran, cendikiawan muda Muhammadiyah yang kini menjadi salah seorang peneliti di LIPI.
Menurutnya buku Puncak Makrifat Jawa merupakan sebuah bentuk kerja intlektual yang serius dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Djibran yang telah membaca buku ini dari halaman pertama hingga terakhir, menemukan banyak hal di dalamnya. Tentu saja, sebagai seorang peneliti yang selalu berusaha melihat segala sesuatu secara objektif, Djibran juga menyampaikan kritiknya terhadap buku ini.
Sebelum menyampaikan apresiasi dan kritiknya, Djibran terlebih dahulu memperkenalkan diri sebagai generasi muda Muhammadiyah yang menempuh pendidikan formal sejak SMP hingga Universitas di lingkungan Muhammadiyah. Baginya, kemuhammadiyahan adalah sesuatu yang telah mendarah daging.
Namun, karena di sisi lain Djibran juga membaca sejarah lain dan juga belajar perspektif sejarah, ia menjadi bertanya-tanya. Bahkan curiga, jangan-jangan sejarah Muhammadiyah dalam kemuhammadiyahan itu telah mengalami banyak masalah.
Termasuk absennya nilai-nilai spiritualitas essoteris. Menurut Djibran, tidak mungkin satu gerakan Islam tidak memiliki nilai-nilai itu. Namun pada kenyataannya, dalam kemuhammadiyahan yang telah ia pahami secara mendalam, nilai-nilai spiritualitas makrifat tidak ia temukan.
Setengah berkelakar Djibran berkata, “Rupanya butuh waktu satu abad, hari ini kita memanggil pulang Ki Ageng Suryomentaram.”
Dan ia menegaskan, “Ya, akhirnya saya menemukan missing link itu. Ternyata sisi-sisi eskatologis, sisi-sisi essoterisme Kyai Ahmad Dahlan itu sebetulnya ada dalam Ki Ageng Suryomentaram. Jadi, kalau mau belajar Muhammadiyah, memang mesti belajar dari kemuhammadiyahan. Tetapi bagaimana memahami pemahaman Islam KH. Ahmad Dahlan—dari yang paling sepele sampai yang paling serius, sampai yang paling hakiki—harus membaca Ki Ageng Suryomentaram.”
Kesimpulan Djibran di atas didasarkan pada fakta sejarah bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid adzdzukarrah-nya Kyai Ahmad Dahlan. Yaitu murid yang belajar langsung dengan lutut ketemu lutut.
Kyai Ahmad Dahlan adalah Katib Amin di Masjid Kauman, dan Ki Ageng Suryomentaram adalah salah seorang putra Hamengku Buwono VII. Sesuai dengan data-data yang ditemukannya, Djibran menyimpulkan bahwa Ki Ageng Suryomentaram adalah satu-satunya murid kinasih Kyai Ahmad Dahlan (Ngabdul Darwis) yang terkait dengan kemakrifatan dan semacamnya.
Setelah mendedah tentang risetnya bersama tim ahli selama sekitar 6 tahun tentang kebudayaan Jawa dari candi ke candi mulai Yogyakarta ke Surabaya hingga Banyuwangi, di mana ia mempertanyakan banyak hal yang berbeda secara diametral dengan kesimpulan para peneliti kejawaan sebelumnya seperti Mark R Woodward, Clifford Geertz, dan Dennis Lombard.
Djibran menyampaikan kritiknya terhadap buku Puncak Makrifat Jawa, yang menurutnya ditulis dengan cara yang personal dan perlu diperkuat lagi dengan metodologi riset tentang sejarah serta cara penulisannya agar buku ini dapat berkontribusi secara signifikan dalam merekonstruksi “sejarah yang hilang” tentang Islam di tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya.
Hal lain yang tidak disetujui oleh Djibran adalah ketika seolah-olah penulis buku Puncak Makrifat Jawa ini menyejajarkan pemikiran Ki Ageng Suryomentaram dengan corak filsafat Timur Tengah yang sesungguhnya sangat berbeda. Filsafat Nusantara menurut Djibran selalu menitikberatkan tentang mikrokosmos, sementara filsafat Timur Tengah lebih terfokus pada makro kosmos.
Namun terlepas dari kekurangannya tersebut, Djibran sangat mengapresiasi buku Puncak Makrifat Jawa yang ditulis oleh Muhaji Fikriono ini sebagai sebuah buku yang luar biasa.
Ia menegaskan, “Ini belum sempurna, tetapi kalau kita sama-sama mendukung ini, ini akan menjadi temuan yang luar biasa. Bukan hanya bagi keluarga Ki Ageng Suryomentaram, tapi juga bermanfaat bagi Muhammadiyah. Bukan hanya bermanfaat bagi Nusantara, tapi juga bagi peradaban dunia.”
Sebelum menutup diskusi, sebagai pribadi yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah, Djibran menyampaikan rasa terimakasihnya yang mendalam terhadap Nahdlatul Ulama yang telah menjaga dan melestarikan tradisi Islam Nusantara.
Sementara itu ketika buku ini dibedah di Universitas Indonesia tanggal 20 Desember 2013 atas inisiatif para mahasiswa dari Fakultas Sastra Jawa, KRT. Dr. Sajidi Hadipoetro Husadaningrat yang merupakan staf pengajar pascasarjana Fakultas Kedokteran UI juga menyampaikan apresiasinya yang cukup mendalam.
Dr. Sajidi yang mengenal secara pribadi penulisnya lebih dari sepuluh tahun lamanya, menegaskan bahwa buku Puncak Makrifat Jawa sebagai karya tulis telah memenuhi persyaratan yang diistilahkannya sebagai FINER. Yaitu Fisibility atau penguasaan terhadap obyek yang ditulis, Intresting atau pencurahan kegelisahan sebagai upaya untuk menemukan jalan keluar, Novelty atau mengandung sesuatu yang baru, Educate atau memiliki unsur pendidikan, dan Relevance atau mempunyai keterkaitan dengan persoalan kekinian.
Adapun Dr. Muhammad Hikam, Ketua Program Vokasi UI, selain mengapresiasi kehadiran buku Puncak Makrifat Jawa ini juga menyampaikan kritiknya sebagaimana Dr. Sajidi, bahwa gaya penulisan buku ini memang agak berbeda dengan buku-buku lain pada umumnya di mana susunan bab per babnya terkesan tumpang tindih, atau tepatnya tidak sistematis dalam bahasa akademisnya.
Semula, sebagai doktor yang biasa menguji tesis S3, S2, dan S1, Dr. Hikam seperti biasa membaca dahulu mukadimah dan langsung ke kesimpulan buku ini. “Namun saya malah pusing sendiri. Ini barangkali pancingan dari penulisnya agar saya membaca semuanya,” demikian komentarnya.
Menanggapi kritik dari semua pembedah bukunya, Muhaji Fikriono mengakui dengan terus terang bahwa dirinya memang tidak memiliki kompetensi untuk menulis buku-buku akademis.
“Benar, saya memang belum memiliki bekal yang cukup untuk dapat menulis buku yang akademis. Tapi Insya Allah buku-buku saya akan tetap dapat memberikan manfaat karena saya menuliskannya dengan sepenuh rasa yang ada pada diri saya. Yaitu rasa sama sebagai salah seorang manusia,” demikian penegasan penulis buku Puncak Makrifat Jawa.
Ujung Berung, 9 Januari 2013.
Senin, 03 September 2012
Sinopsis buku Puncak Makrifat Jawa
Judul: Puncak Makrifat Jawa; Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram.
Penulis: Muhaji Fikriono
Editor: Abdullah Wong
Pengantar: Radhar Panca Dahana
Penerbit: Noura Books (Mizan Group)
Ukuran: 15 x 23 cm, 474 halaman.
Cetakan I, Juli 2012
Harga: Rp 86.000,-
PUNCAK MAKRIFAT JAWA
Bersahabat dengan Reribed (Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram)
Pengetahuan atau ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia sebagaimana makanan dan minuman atau udara dalam melangsungkan hidup dan kehidupan. Secara substansial, pengetahuan manusia sesungguhnya tidak terbatas. Karena pada saat manusia tidak mengetahui sekalipun, ternyata manusia masih bisa mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Karena sifatnya yang tak terbatas itu, maka pengetahuan sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apa dan siapa pun. Dalam hal ini pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh ideologi, filsafat, moralitas, bahkan agama sekalipun.
Maka perlu ditegaskan kepada sidang pembaca, bahwa pengetahuan yang dibahas dalam buku ini sama sekali bukan pengetahuan agama, mistisisme, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan bukan pula budi pekerti atau etika yang menganjurkan dan melarang tingkah laku tertentu. Pengetahuan yang didedah dalam buku ini lebih merupakan hasil dari memahami dan mengalami sesuatu yang benar-benar telah diketahui.
Di sinilah sosok Ki Ageng Suryomentaram memberikan satu pencerahan. Bahkan untuk mengalami dan demi mendapatkan pengetahuan yang utuh itu, ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan selama kurang lebih 40 tahun. Ki Ageng Suryomentaram yang dilahirkan pada 20 Mei 1892 adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ki Ageng meninggal pada 18 Maret 1962, di Yogyakarta. Seperti halnya tokoh sufi Ibrahim Ibnu Adham dan Sidharta Gautama, Ki Ageng Suryomentaram juga mengalami kegelisahan batin yang mendalam meskipun ia hidup di dalam keraton. Ia pun kabur dan menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya, Natadangsa.
Selama pengembaraan dan tirakatnya itulah berbagai temuan dan pencerahan ia dapatkan. Dari berbagai karya dan tulisannya, satu diantaranya adalah Buku ‘Langgar’.
Bagi Ki Ageng Suryomentaram, obyek pengetahuan yang benar-benar dapat kita ketahui ada dua macam. Pertama, obyek pengetahuan yang hanya bisa diketahui secara menyeluruh atau utuh (Barang Asal). Sesuatu yang utuh (mutlak) tentu saja tak cukup dipahami hanya dengan indera, tak cukup dihitung secara matematis, tak cukup dibagi secara parsial, terlebih dikotak dalam imaji ruang-waktu. Bukankah kemutlakan itu “mengatasi” semua dualitas bahkan keragaman yang selama ini hadir dalam pikiran manusia?
Kedua, adalah obyek pengetahuan yang bisa diperinci atau dapat dihitung dan dibagi-bagi. Tentu saja obyek ini merupakan derivasi dari Barang Asal. Obyek pengetahuan yang kedua ini oleh Ki Ageng disebut sebagai Barang Jadi atau sesuatu yang diadakan (dumadi atau maujud). Sifat dasar dari Barang Jadi adalah kebalikan dari Barang Asal, yakni dapat dihitung, selalu terikat ruang-waktu, dan bisa diindera.
Karena Barang Jadi dapat mengada sebab adanya Barang asal, maka Barang Asal boleh dibilang sebagai Yang Mewujudkan Barang Jadi. Pengetahuan yang berkaitan dengan Barang Asal inilah yang kemudian disebut sebagai pokok ilmu pengetahuan. Menurut Ki Ageng, cara mendapatkan ilmu Barang Asal, sangat berbeda bahkan berlawanan dengan cara memikirkan ilmu Barang Jadi. Mendapatkan ilmu Barang Asal tidak memerlukan pertanyaan berapa, bagaimana, kenapa, kapan, dan di mana.
Itulah diantara prinsip-prinsip pengetahun temuan Ki Ageng Suryomentaram yang tertuang dalam Buku ‘Langgar’, sebuah buku yang berisi kumpulan surat dan catatan-catatan Ki Ageng Suryomentaram yang ditulis dari tahun 1920 hingga 1928. Langgar sendiri adalah nama lain dari musholla, yakni tempat yang biasa digunakan Ki Ageng selama menuliskan risalahnya.
Buku ‘Langgar’ yang semula berbahasa Jawa ini kemudian diterjemahkan dan diberikan penjelasan secara mendalam oleh Muhaji Fikriono. Dalam hal ini, Muhaji Fikriono memberi kesempatan kepada pembaca untuk menelusuri lebih jauh perenungan dan temuan-temuan Ki Ageng. Sebelumnya, Muhaji Fikriono menulis buku ‘Makrifat Jawa untuk Semua’ yang lebih merupakan pengantar atas perenungan Ki Ageng Suryomentaram.
Maka, dalam buku ini Muhaji yang juga pernah menulis ‘Hikam untuk Semua’ secara tekun dan penuh penghayatan mencoba menelusuri relung-relung pengetahuan Ki Ageng Suryomentaram dengan lebih mendalam.
Kehadiran ‘Risalah’ Ki Ageng yang kemudian diberi judul Puncak Makrifat Jawa ini semakin menarik dikaji karena diapresiasi oleh seseorang yang memiliki latar belakang tradisi pesantren yang ketat sekaligus pengalaman hidup yang getir dan dilematis.
Tak heran, bila pertemuan Aji—demikian ia akrab disapa—dengan khasanah Ki Ageng Suryomentaram seakan menempatkan dirinya sebagai “murid” yang bertemu “Guru”. Bahkan dalam buku ini pula, penulis menyejajarkan sosok Guru Ageng Suryomentaram dengan sosok Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, karena kejeniusan Ki Ageng dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi khasanah jiwa manusia (Kawruh Jiwa). [editor]***
Pengetahuan atau ilmu merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia sebagaimana makanan dan minuman atau udara dalam melangsungkan hidup dan kehidupan. Secara substansial, pengetahuan manusia sesungguhnya tidak terbatas. Karena pada saat manusia tidak mengetahui sekalipun, ternyata manusia masih bisa mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Karena sifatnya yang tak terbatas itu, maka pengetahuan sesungguhnya tidak bisa dibatasi oleh apa dan siapa pun. Dalam hal ini pengetahuan tidak bisa dibatasi oleh ideologi, filsafat, moralitas, bahkan agama sekalipun.
Maka perlu ditegaskan kepada sidang pembaca, bahwa pengetahuan yang dibahas dalam buku ini sama sekali bukan pengetahuan agama, mistisisme, aliran filsafat, aliran kepercayaan, dan bukan pula budi pekerti atau etika yang menganjurkan dan melarang tingkah laku tertentu. Pengetahuan yang didedah dalam buku ini lebih merupakan hasil dari memahami dan mengalami sesuatu yang benar-benar telah diketahui.
Di sinilah sosok Ki Ageng Suryomentaram memberikan satu pencerahan. Bahkan untuk mengalami dan demi mendapatkan pengetahuan yang utuh itu, ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan selama kurang lebih 40 tahun. Ki Ageng Suryomentaram yang dilahirkan pada 20 Mei 1892 adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dengan nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ki Ageng meninggal pada 18 Maret 1962, di Yogyakarta. Seperti halnya tokoh sufi Ibrahim Ibnu Adham dan Sidharta Gautama, Ki Ageng Suryomentaram juga mengalami kegelisahan batin yang mendalam meskipun ia hidup di dalam keraton. Ia pun kabur dan menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya, Natadangsa.
Selama pengembaraan dan tirakatnya itulah berbagai temuan dan pencerahan ia dapatkan. Dari berbagai karya dan tulisannya, satu diantaranya adalah Buku ‘Langgar’.
Bagi Ki Ageng Suryomentaram, obyek pengetahuan yang benar-benar dapat kita ketahui ada dua macam. Pertama, obyek pengetahuan yang hanya bisa diketahui secara menyeluruh atau utuh (Barang Asal). Sesuatu yang utuh (mutlak) tentu saja tak cukup dipahami hanya dengan indera, tak cukup dihitung secara matematis, tak cukup dibagi secara parsial, terlebih dikotak dalam imaji ruang-waktu. Bukankah kemutlakan itu “mengatasi” semua dualitas bahkan keragaman yang selama ini hadir dalam pikiran manusia?
Kedua, adalah obyek pengetahuan yang bisa diperinci atau dapat dihitung dan dibagi-bagi. Tentu saja obyek ini merupakan derivasi dari Barang Asal. Obyek pengetahuan yang kedua ini oleh Ki Ageng disebut sebagai Barang Jadi atau sesuatu yang diadakan (dumadi atau maujud). Sifat dasar dari Barang Jadi adalah kebalikan dari Barang Asal, yakni dapat dihitung, selalu terikat ruang-waktu, dan bisa diindera.
Karena Barang Jadi dapat mengada sebab adanya Barang asal, maka Barang Asal boleh dibilang sebagai Yang Mewujudkan Barang Jadi. Pengetahuan yang berkaitan dengan Barang Asal inilah yang kemudian disebut sebagai pokok ilmu pengetahuan. Menurut Ki Ageng, cara mendapatkan ilmu Barang Asal, sangat berbeda bahkan berlawanan dengan cara memikirkan ilmu Barang Jadi. Mendapatkan ilmu Barang Asal tidak memerlukan pertanyaan berapa, bagaimana, kenapa, kapan, dan di mana.
Itulah diantara prinsip-prinsip pengetahun temuan Ki Ageng Suryomentaram yang tertuang dalam Buku ‘Langgar’, sebuah buku yang berisi kumpulan surat dan catatan-catatan Ki Ageng Suryomentaram yang ditulis dari tahun 1920 hingga 1928. Langgar sendiri adalah nama lain dari musholla, yakni tempat yang biasa digunakan Ki Ageng selama menuliskan risalahnya.
Buku ‘Langgar’ yang semula berbahasa Jawa ini kemudian diterjemahkan dan diberikan penjelasan secara mendalam oleh Muhaji Fikriono. Dalam hal ini, Muhaji Fikriono memberi kesempatan kepada pembaca untuk menelusuri lebih jauh perenungan dan temuan-temuan Ki Ageng. Sebelumnya, Muhaji Fikriono menulis buku ‘Makrifat Jawa untuk Semua’ yang lebih merupakan pengantar atas perenungan Ki Ageng Suryomentaram.
Maka, dalam buku ini Muhaji yang juga pernah menulis ‘Hikam untuk Semua’ secara tekun dan penuh penghayatan mencoba menelusuri relung-relung pengetahuan Ki Ageng Suryomentaram dengan lebih mendalam.
Kehadiran ‘Risalah’ Ki Ageng yang kemudian diberi judul Puncak Makrifat Jawa ini semakin menarik dikaji karena diapresiasi oleh seseorang yang memiliki latar belakang tradisi pesantren yang ketat sekaligus pengalaman hidup yang getir dan dilematis.
Tak heran, bila pertemuan Aji—demikian ia akrab disapa—dengan khasanah Ki Ageng Suryomentaram seakan menempatkan dirinya sebagai “murid” yang bertemu “Guru”. Bahkan dalam buku ini pula, penulis menyejajarkan sosok Guru Ageng Suryomentaram dengan sosok Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, karena kejeniusan Ki Ageng dalam mengeksplorasi dan mengelaborasi khasanah jiwa manusia (Kawruh Jiwa). [editor]***
Langganan:
Postingan (Atom)
